Soekarno dan Pidatonya yang Membius dan Tak Terlupakan

Soekarno dan Pidatonya yang Membius dan Tak Terlupakan

JAKARTA – Empat puluh enam tahun sudah Indonesia kehilangan tokoh proklamasi Soekarno. Ia adalah salah satu tokoh paling dihormati di dunia. Presiden pertama Indonesia ini adalah tokoh yang bisa membius melalui pidatonya.

 

Suara lantangnya mampu membuat siapapun berhenti dari aktivitas yang dilakukannya dan fokus mendengarkan apa yang dikatakannya. Beberapa judul pidato yang disampaikannya saat memperingati hari kemerdekaan 17 Agustus di antaranya adalah Tujuh Belas Agustus (Jumat, 17 Agustus 1945), Sekali Merdeka Tetap Merdeka (Sabtu, 17 Agustus 1946), Rawe-Rawe Rantas, Malang-Malang Putung (Minggu, 17 Agustus 1947), dan masih banyak pidato yang disampaikan Soekarno setiap kali peringatan hari kemerdekaan Indonesia.

Pidato yang tidak pernah terlupakan adalah pidato terakhir Soekarno di masa jabatannya. Yaitu pidato peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-21. Pidato yang berjudul Djangan Sekal-kali Melupakan Sedjarah disampaikan pada Rabu, 17 Agustus 1966.

Pidato terakhir Soekarno sebagai presiden ini sering disingkat menjadi Jas Merah. Isi pidato ini mengingatkan kita untuk tidak melupakan sejarah. Apapun yang telah kita capai di masa lampau adalah awal jalan apa yang akan kita capai di masa sekarang dan bekal nanti di masa depan.

Seperti kutipan pidato “Jas Merah” yang Soekarno sampaikan:

 

“Hasil-hasil positif yang sudah dicapai di masa yang lampau jangan dibuang begitu saja. Membuang hasil-hasil positif dari masa yang lampau tidak mungkin. Sebab, kemajuan yang kita miliki sekarang ini adalah akumulasi adalah akumulasi daripada hasil-hasil perjuangan di masa lampau, yaitu hasil-hasil macam-macam perjuangan dari generasi nenek moyang kita sampai kepada generasi yang sekarang ini. Sekali lagi saya ulangi kalimat ini, membuang hasil-hasil positif dari masa yang lampau tidak mungkin. Sebab, kemajuan yang kita miliki sekarang ini adalah akumulasi adalah akumulasi daripada hasil-hasil perjuangan di masa lampau.”

Selain berisi pidato kenegaraan, Soekarno juga selalu mengingatkan bangsa Indonesia tentang sejarah bangsa Indonesia, siapa bangsa Indonesia, dan apa yang harus dilakukan bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan dan persatuan.