PEP-MIERRE LEAGUE

PEP-MIERRE LEAGUE

Mengawali tulisan ini saya harus mengilas balik Premier League musim lalu tentang keberhasilan dan kegagalan di musim 2016/2017. Keberhasilan adalah nama tengah Antonio Conte yang tidak saja mencatat rekor 13 kali kemenangan berturut-turut saat menangani Chelsea di musim pertamanya, sekaligus juga mengembalikan trophy Premier League ke Stamford Bridge.

Keberhasilan juga jadi pencapaian Jose Mourinho di musim pertamanya kembali ke kasta tertinggi sepakbola Inggris. Memang hanya urutan keenam Premier League dengan julukan raja seri, tapi gelar piala liga di bulan Februari dan gelar Liga Eropa di bulan Mei membawa Manchester United lolos ke putaran grup Liga Champion musim ini.

Sebaliknya kegagalan adalah milik Arsene Wenger setelah Le Professeur akhirnya harus merasakan gagal lolos ke Liga Champion setelah hanya berada di urutan kelima klasemen akhir liga, sehingga di masa game of thrones-nya bersama The Gunners, Wenger harus puas bermain sepakbola malam Jum’at musim ini di kancah Liga Eropa.

Dan yang paling disorot sebagai biang gagal musim lalu adalah sosok mentereng di kursi panas kepelatihan Manchester City. Joseph Guardiola selalu dianggap sebagai pelatih flamboyan yang setiap musimnya pasti mempersembahkan gelar bagi klub yang diasuhnya. Tengok saja bagaimana selama lima musim di Camp Nou, Pep seolah mengubah La Liga menjadi Liga Guardiona dengan gelar demi gelar, domestik maupun internasional..Yang paling minim adalah musim terakhirnya bersama Barcelona  2011/2012 setelah Blaugrana hanya merebut Copa del Rey.

Absen setahun dengan istirahat di New York, Guardiola kembali ke kursi kepelatihan dengan sangat meyakinkan di Bundesliga.  Tiga gelar Bundesliga, dua gelar DFB Pokal dan satu gelar Piala Dunia antar klub bagi FC Bayern Muenchen sampai mantan pivot Barcelona dan Brescia ini memutuskan hengkang ke Etihad bersama The Citizen akhir musim 2015/2016. Gelontoran uang dari Khaldoon Al Mubarak, sang ketua di Etihad yang hanya menghasilkan urutan ketiga Premier League, putaran 16 besar Liga Champion, semifinal piala FA dan putaran keempat Piala Liga jelas merupakan sebuah tamparan bagi pelatih sekaliber Guardiola.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah kepelatihan Pep, yang membawa La Liga jadi Liga Guardiona, Bundesliga jadi Fc Peplywood jadi seperti bukan siapa-siapa. Tapi seperti halnya orang yang gagal, kesebaran sang pemilik, dan sikap Pep sendiri  bahwa Premier League dengan persaingan yang tinggi di antara enam klub besar adalah tempat dimana kegagalan hanyalah kesuksesan yang tertunda, Guardiola membuktikannya musim ini.

 

Rekor Premier League

Mengeluarkan uang hampir 200 juta poundsterling untuk mendatangkan Ederson, Bernardo Silva, Kyle Waler, Danilo dan Benjamin Mendy serta memaksimalkan materi pemain pemain dengan kualtas individu tinggi yang mereka miliki, kedalaman squad The Citizen adalah yang terbaik di Premier League saat ini.

Sempat meragukan di bulan Agustus dengan hanya menang dua gol itupun memasuki menit ke-80 saat tandang menghadapi tim promosi Brighton & Hove Albion, ditahan imbang oleh Everton dan kemudian menang tipis di kandang Bournemouth, Pep kemudian membawa pasukannya tidak tertahankan.  Terkakhir hari minggu lalu di minggu ke-13 Premier League Vincent Kompany dkk, bermain buruk tapi mencatak kemenangan ke-11 berturut-turut setelah mematahkan perlawan tuan rumah Huddersfield Town.

Rekorpun tercipta dengan 37 poin dari 13 laga Premier League awal,  Sesuatu hal yang belum pernah dilakukan oleh klub manapun, bahkan Antonio Conte musim lalu bersama Chelsea yang sempat menang 13 kali bertururt-turut.  Ditambah lima kemenangan di Liga Champion dan juga tiket keperempat final Piala Liga total 18 kemenangan bertutut-turut digapai oleh City paska ditahan imbang Everton bulan Agustus lalu.

Pertanyaannnya sekarang kapankah gas dari Manchester City ini akan habis atau setidaknya menurun?  Menilik dari dua laga terakhir menjamu Feyenoord di Liga Champion dan tandang ke John Smith stadium menghadapi The Terrier Huddersfield, terasa sekali penurunan permainan Sergio Aguero dkk.  Dibutuhkan gol-gol aneh dari Raheem Sterling untuk mendapatkan nilai penuh.

Tapi saya pikir, menurun atau tidak sulit untuk mengharapkan bahwa Manchester City akan habis. Kedalaman squad yang sangat tinggi dengan pemain pelapis yang sama baiknya dengan pemain inti jika tidak lebih baik membuat Guardiola bisa memiliki rencana B, C dan D dalam satu pertandingan jika rencana awal A mentok.

Tengok bagaimana masuknya Gabriel Jesus seorang penyerang murni menggantikan centre back Vincent Kompany hari minggu lalu, berujung dengan gol kemenangan hasil kerja Gabriel Jesus yang ditepis oleh penjaga gawang Huddersfield Jonas Lössl tapi bisa diteruskan oleh Raheem Sterling dengan positioning bak seorang striker. Ada di tempat yang diperlukan di waktu yang tepat.  Posisi yang ditinggalkan Kompany di lini belakangpun diisi dengan baik oleh gelandang bertahan Fenandinho, sehinga The Citizen berubah dari pola 4-1-4-1 menjadi 4-4-2.  Persis sama dengan yang dilakukan oleh Pep saat menangani Barcelona dan FC Bayern.

Intinya adalah bagaimana meraih tiga poin setiap pertandingan semaksimal mungkin. Ugly Win atau menang dengan bermain buruk setidaknya sudah dilakukan berkali kali oleh Manchester City musim ini. Menghadapi AFC Bournemouth dan Huddersfield di Premier League serta mengalahkan Feyenoord di Liga Champion adalah salah tiga diantaranya. Ingat bagaimana mereka unggul dua gol di babak pertama melawan pimpinan klasemen serie A, Napoli untuk kemudian dipaksa bertahan di kandang sendiri di babak kedua tapi tetap mampu bertahan dengan baik dan membawa poin penuh.

Menyambut musim festival bulan Desember ini dengan jumlah pertandingan yang sangat ketat adalah batu ujian bagi rentan atau kokohnya pondasi Pep.  Prediksi dua laga ke depan menjamu Southampton dan West Ham United juga akan jadi milik juara Premier League dua kali ini. Tolak ukur apakah Pep berhasil atau tidak akan terlihat tanggal 10 Desember mendatang saat mereka tandang ke Old Traffird dalam laga yang bertajuk Ice v Fire ini.

United dengan rekor 7 kemenangan bertururt-turut di kandang musim ini bisa jadi batu sandungan pertama dalam usaha Pep untuk memainkan game of thrones-nya musim ini. Untuk membuat Premier League menjelma menjadi Pep-Mierre League musim ini.

G A Z