King in The North

King in The North

Anda semua pasti menyaksikan duel di Goodison Park dan Wembley hari Minggu lalu.  Bagaimana Minggu Megah di beINSports 1 menampilkan daya serang Arsenal menghancurkan tuan rumah Everton yang mengakibatkan Ronald Koeman dan asistennya Erwin Koeman harus hengkang dari Merseyside.  Juga bagaimana klub Merseyside yang lain, Liverpool dibuat tak berdaya di Wembley ditangan tuan rumah Tottenham Hotpsur.

Nah, bayangkan jika dua kubu The Gunners dan The Lillywhites bertemu dalam duel yang biasanya dari tahun ketahun bertajuk North London Derby.  Bayangkan penampilan yang mereka bawa saat menghempaskan lawannya masing masing mereka tampilkan saat  bertemu di The Emirates tanggal 18 November mendatang.  Duel serang dengan sedikit pertahanan yang longgar ala Arsenal berhadapan dengan konsistensi Tottenham Hotspur disemua lini tentunya akan sangat ideal bagi duel pertama musim ini untuk menentukan siapa raja di London Utara.  King In The North yang kebetulan tetap akan dimainkan di Utara London dengan Arsenal menjadi tuan rumah duel pertama musim 2017/2018 ini.

Memang agak mengurangi makna siapa yang akan jadi raja di Utara London, mengingat kepindahan Spurs ke Wembley untuk dua musim kedepan akan membuat seolah olah hanya Arsenal yang menjadi penghuni London Utara.  Tapi mengingat bagaimana dalam dua musim terakhir seolah olah kekuatan Utara London telah bergeser ke White Hart Lane dan bukan lagi di The Emirates akan semakin membuat laga ini ditunggu tunggu.  Mampukah Arsenal membalas kekalahan mereka di White Hart Lane di paruh kedua musim lalu, laga dimana kekalahan membuat mereka disalib oleh Liverpool dan harus puas di peringkat ke lima klasemen sekaligus terbuang ke Liga Europa atau istilah yang menyakitkan adalah klub besar langganan Liga Champion yang harus bermain di Liga Malam Jumat.

 

KONSISTENSI

Siapa raja London Utara selalu menjadi pertanyaan setiap kali Liga Inggris berjalan.  Apalagi setelah namanya berubah menjadi Premier League.  Masuknya Arsene Wenger yang sudah mempersembahkan 3 gelar Premier League, 7 piala FA dan 7 gelar Community Shield bagi The Gunners semakin mengukuhkan hegemoni Arsenal atas seterunya di London Utara ini, yang sepanjang sejarah Premier League belum sekalipun meraih gelar.  Terbaik hanyalah urutan kedua musim lalu dan urutan ketiga musim 2015/2016 serta satu gelar piala Liga saat ditangani oleh Juande Ramos musim 2007/2008.

Bahkan pada saat The LillyWhiteS dianggap sial karena Leicester demikian luar biasa musim 2015/2016, sehingga walaupun Harry Kane menampilkan permainan yang paling menghibur mereka tetap ada diurutan ketiga dibawah Leicester City dan Arsenal dengan hanya mampu bermain imbang dua kali di North London Derby serta tersingkir di Piala Liga dari seterunya ini di White Hart Lane.

Gengsi Siapa raja di Utara ini yang membuat laga dari musim kemusim tak lepas dari permainan keras, apalagi jika melibatkan pemain yang berpindah klub dari Arsenal ke Tottenham Hotspur atau sebaliknya.  Tanyakan pada William Gallas yang tampil di North London derby sebanyak 8 kali, 6 bagi Arsenal dan 2 bagi Spurs.  Juga centre back Sol Campbell yang 8 kali memperkuat Arsenal serta 13 kali memperkuat Tottenham Hotspur dalam derbi London Utara.

Yang paling menonjol dengan dramanya adalah Emmanuel Adebayor yang 9 kali memperkuat Arsenal dan 4 kali memperkuat Tottenham.  Adebayor adalah satu satunya pemain di era Premier League yang mencetak gol bagi kedua klub dalam duel penuh permusuhan ini.  Juga drama yang ditampilkannya dalam selebrasi ketika menjebol gawang Arsenal.  Sampai sekarang, Adebayour adalah top scorer North London Derby dengan 8 gol yang dicetaknya bagi Arsenal dan Tottenham Hotspur.

Untuk semakin membuat drama duel ini jadi tontonan menarik adalah bagaimana The Goonerss dan Goonerets – pendukung Arsenal – dari musim kemusim merayakan St Totteringham Day yaitu hari dimana secara matematis, Tottenham Hotspur tidak mungkin lagi mengejar Arsenal dalam klasemen.  Jadi bisa dibayangkan bagaimana riuhnya pendukung the Lillywhites ketika gol gol Delle Alii dan penalty Harry Kane di hari terakhir bulan April musim lalu, memastikan bahwa Tottenham Hotspur ada di atas Arsenal dalam klasemen musim 2016/2017.  Sejarah pertama dalam 22 tahun mereka unggul posisi dari Arsenal.  Anehnya adalah pendukung Spurs tidak merayakan St Hotspur Day, seperti yang mereka lakukan tahun 1991 ketika mengalahkan Arsenal di semifinal piala FA dan akhir musim 2009 /2010 ketika mereka mengalahkan Arsenal 2 – 1 walaupun kalah dalam klasemen.

Konsistensi sepanjang musim seperti musim 2017/2018 inilah yang sulit dilakukan oleh Tottenham Hotspur dibawah manajer-manajer terdahulu, terutama saat mereka menghadapi Arsenal.  Tak heran jika Arsenal selalu membanggakan bahwa mereka bermain di Liga Champion sebanyak 19 musim sejak Arsene Wenger mengambil alih, sedangkan Tottenham Hotspur baru 3 kali.

Tapi itu tinggal sejarah.  Faktanya adalah dibawah Mauricio Pochettino, Spurs berbenah dengan pasti.  Permainan indah dengan konsentrasi dipertahanan dan kuat dilapangan tengah serta memiliki goal-getter dalam diri Harry Kane yang dua musim berturut turut jadi pencetak gol terbanyak Premier League adalah jaminan bahwa mereka bisa mengatasi Arsenal seperti musim lalu.  Sehingga ada guyonan di Inggris sekarang, seharusnya Arsenal menguasahakan North London Derby diadakan di bulan Agustus atau tiga minggu pertama awal musim dimana Harry Kane selalu gagal mencetak gol.  Sekarang Harry Kane sudah semakin konsisten dengan 8 gol dlam 6 laga premier league terakhir serta tambahan 5 gol dalam 3 laga Liga Champion adalah gambaran bagaimana konsistennya Super Harry sekarang ini.

Artinya, anak asuhan Arsene Wenger harus menampilkan permainan terbaik mereka tidak saja dilini tengah dan depan seperti yang mereka tunjukkan saat menghadapi Everton, tapi juga tidak boleh membuat blunder di lini belakang seperti yang mereka tunjukkan saat menghadapi The Toffees.  Harry Kane akan melebihi kemampuan Wayne Rooney dan Oumar Niasse jika scholl boy error tetap dilakukan oleh Laurent Koscielny dkk.  Yang artinya peluang Harry Kane untuk mengejar ketinggalan dua gol dari Emanuel Adebayor sebagai top scorer North London Derby akan semakin terbuka.

Sekaligus menuntaskan siapa The King In The North dalam sepakbola London musim ini..

G A Z

var trackOutboundLink = function(url) { gtag('event', 'click', { 'event_category': 'outbound', 'event_label': url, 'transport_type': 'beacon', 'event_callback': function () {document.location = url;} }); }