Jejak Tim Promosi

Jejak Tim Promosi

Pernahkah kita berpikir mengapa Scott Sinclair begitu melepaskan emosinya ketika menciptakan hattrick ke gawang Reading di Wembley bulan Mei tahun 2011 yang membawa Reading menang play-off untuk lolos ke Premier League pertama kalinya yang terus mereka pertahankan hingga sekarang?

Bukan tiga gol yang bersarang digawang Adam Federici yang membuat Scott Sinclair demikian bahagia.  Demikian juga suka cita rekan rekannya bak memenangkan Piala Dunia bagi Wales.  Kebahagiaan anak asuhan Brendan Rodgers enam musim lalu itu lebih karena jumlah uang hak siar Premier League yang kala itu mencapai 100 juta poundsterling, yang artinya bisa menjaga kelangsungan hidup klub sampai bermusim musim kedepan.  Itulah makna mempertahankan status sebagai klub Premier League, artinya menatap masa depan yang lebih baik bagi klub maupun masing masing individu di dalam klub itu.

Swansea melakukan berbagai upaya untuk bertahan di Premier League hingga musim ini.  Lihat bagaimana usaha Swansea City untuk mempertahankan status sekaligus uang hak siar itu dengan mengganti pelatih hingga dua kali musim lalu ketika Francesco Guidollin dianggap tidak berhasil diawal musim dan digantikan oleh Bob Bradley.  Bradley yang buta sepakbola Inggris dan hanya menghasilkan 8 poin dari 11 laga juga dipecat dan digantikan oleh Paul Clement yang kinerjanya efektif saat Swansea menjamu lawan lawannya untuk mempertahankan posisi 15 klasemen dan raupan 103,1 juta poundsterling untuk musim berikutnya bagi klub asal Wales ini.

Contoh tersukses tim promosi adalah Leicester City yang jadi juara Championship musim 2013/2014.  Sempat tertatih tatih di musim 2014/2015, kemudian great comeback mereka lakukan disembilan pertandingan akhir musim.  Musim berikutnya, polesan Clausio Ranieri terhadap kinerja Jamie Vardy dkk membuat mereka jadi juara Premier League musim 2015/2016, dengan budget terendah untuk sebuah tim yang menjadi juara dalam sejarah Premier League sejak 1992/1993.

Contoh lain adalah AFC Bournemouth, bagaimana klub yang lolos pertama kali ke Premier League musim 2015/2016 ini dengan finansial hasil hak siar mampu mendatangkan Artur Boruc, Adam Federici, Joshua King, Tyrone Mings, Max Gradel, Benik Afobe dan Lewis Graban, sehingga Eddie Howe dapat menerapkan filosofi attacking football-nya dengan baik.  Hasil musim pertama di Premier League adalah urutan ke 16 dan terhindar dari degradasi.  Musim berikutnya dengan tim yang kurang lebih sama mereka mengejutkan dengan ada diurutan ke 9 yang artinya masuk 10 besar.

Tidak semua tim promosi sukses atau langsung sukses seperti Swansea City dan Bournemouth.  Blackpool contohnya.  Memasuki satu satunya musim premier league mereka 2010/20 11,  pasukannya Ian Holloway ini menang di minggu perdana dan sempat mengejutkan dengan mengalahkan Liverpool di Anfield bulan Oktober, untuk kemudian penampilan mereka menurun setelah jadwal  padat di musim festival dan hanya berada di urutan ke 19 untuk terdegradasi.

Juga Burnley yang lolos pertama kalinya ke Premier League, setelah jadi juara Championship musim 2013/2014.  Tapi hanya semusim pasukan Sean Dyche ni bertahan untuk kembali terdegradasi dibulan Mei 2015.  Tapi bentukan formasi tetap dipertahankan oleh manajemen termasuk Sean Dyche yang dengan tambahan Andre Gray kembali lolos ke Premier League diakhir musim 2015/2016 sebagai juara Championship.  Pelajaran kesalah musim 2014/2015 di lakukan dengan memanfaatkan uang hak siar menjadi sejumlah pemain seperti Steven Defour, Joey Barton dan Ashley Westwood.  Performa tandang tetap jadi masalah dengan hanya meraih 2 kemenangan.  Tapi Turf Moor jadi ajang mereka meraih poin untuk mendapatkan zona poin aman 40 diakhir musim dan urutan ke 16.

Musim berjalan 2017/2018 ini, Sean Dyche menambah Stephen Ward di lini belakang, Chris Wood di lini depan, sehingga walaupun kehilangan Andre Gray mereka tetap efektif.  Baru satu kali kalah, tapi penampilan dikandang lawan luar biasa dengan mengalahkan Chelsea dan Everton, serta menahan imbang Tottenham Hotspur dan Liverpool.  Masih awal untuk mengatakan mereka tidak mungkin tidak terdegradasi lagi, tapi setidaknya fulus bisa dimanfaatkan dengan baik untuk perbaikan tim oleh Sean Dyche.

Hal yang tentunya juga diharapkan dan tiga tim promosi musim ini yang ingin mengikuti jejak Swansea City, AFC Bournemouth dan Burnley.

 

Konsistensi

Memenangkan laga seawal mungkin sangat diharapkan dilakukan oleh para tim promosi untuk membawa mental mereka terangkat  mengarungi musim kompetisi di Premier League yang sangat membutuhkan konsistensi.  Walaupun belum jaminan menang di minggu pertama akan membuat mereka bertahan di minggu terakhir, seperti yang dialami oleh Blackpool musim 2010/2011.

Musim 2017/2018 ini, Huddersfield Town ada di posisi ini dengan mengalahkan tuan rumah Crystal Palace di Selhurst Park tiga gol tanpa balas.  Seminggu kemudian anak asuhan David Wagner ini mengalahkan sesama tim promosi, Newcastle United lewat gol tunggal Aaron Mooy dan mengakhir buan Agustus dengan 7 poin tanpa kebobolan setelah menahan imbang Southampton tanpa gol di John Smith’s Stadium.  Tapi kembali kelemahan tim promosi adalah konsistensi.  Usai international break pertama musim ini, kinerja Christopher Schindler dkk menurun dengan hanya 2 poin dari 4 laga dan hanya Laurent Depoitre yang masuk daftar pencetak gol bulan September. Depoitre, Mooy dan SteveMounie – yang sementara jadi top skor The Terriers dengan 2 gol – adalah tiga dari sepuluh pemain yang didatangkan dengan keseluruhan harga transfer 40 juta poundsterling.  Jumlah yang besar untuk klub sekecil Huddersfield.  Dan dengan laga usai international break akan menghadapi Manchester United dan Liverpool disamping Swansea City, ujian apakah Huddersfield bisa bertahan di Premier League atau ketidakkonsistenan kembali menghantui pasukannya David Wagner ini.

Bicara tidak konsisten dan juga pelitnya uang yang keluar dari sang pemilik Mike Ashley, justru menerpa tim promosi lain yang  sebenarnya sangat berpengalaman di Premier League, Newcastle United.  Kalah di dua laga awal – salah satunya dari tim sesama promosi Huddersfield – sebenarnya Jamaal Lascelles dan kawan-kawan sudah memperbaiki kinerja mereka lewat tiga kemenangan berturut-turut, sebelum kembali sesama tim promosi, Brighton & Hove Albion mengalahkan mereka.  Laga terakhir sebeum international break memang Matt Ritchie dan kawan-kawan bisa menahan imbang Liverpool di St. James Park, tapi kalah 2 laga tandang melawan sesama tim promosi bisa jadi kendala nantinya jika The Magpies terus menunjukkan ketidakkonsistenan, apalagi dibulan Oktober walaupun laga mereka tidak berat tapi tandang ke Turf Moor menghadapi Burnley tidak mungkin mudah bagi pasukannya Rafa Benitez ini.

Dan bicara tidak konsisten juga dialami oleh pasukannya pelatih berpengalaman Premier League Chris Hughton.  Pernah membawa Norwich City berada diurutan ke 11 Premier League walaupun kemudian dipecat semusim kemudian ketika The Cannaries ada diurutan ke 17, pengalaman Hughton membawa Brighton & Hove Albion bersaing ketat dengan Newcastle United untuk gelar Championship musim lalu.  Musim ini dengan mendatangkan Matty Ryan dari Valencia, Pascal Gross dan Markus Stuttner dari Ingolstadt, Davy Propper dari PSV Eindhoven serta mempermanenkan Tim Krull yang dipinjam dari Newcastle United, The Seagull hanya mendapatkan 1 poin dari 3 laga di bulan Agustus.  Tapi usai international break mereka meraih 6 poin kandang dan hanya kalah dari tim dengan attacking force seperti Bournemouth serta Arsenal saat tandang.  Kemajuan bagi Brighton, walaupun tetap harus dlihat laga berikutnya di bulan Oktober dan awal November, termasuk menjamu Everton dan Southampton.

Intinya adalah memaksimalkan konsistensi menghadapi lawan yang tengah tertatih tatih seperti Everton dan juga memenangkan laga menghadapi tim sesama promosi seperti yang dilakukan Huddersfield dan Brighton terhadap Newcastle serta meraih poin sebanyak banyaknya saat menjamu lawan untuk bisa mempertahankan status klub Premier League diakhir musim. Nantikan aksi tim-tim promosi berkiprah di Premier League di Channel beIN Sports dengan berlangganan TV kabel MNC Play.

G A Z

/** * Fungsi yang melacak klik pada link keluar di Analytics. * Fungsi ini menggunakan string URL valid sebagai argumen, dan menggunakan string URL tersebut * sebagai label peristiwa. Mengatur metode pengangkutan ke 'suar' memungkinkan klik dikirim * menggunakan 'navigator.sendBeacon' di browser yang mendukungnya. */ var trackOutboundLink = function(url) { gtag('event', 'click', { 'event_category': 'outbound', 'event_label': url, 'transport_type': 'beacon', 'event_callback': function () {document.location = url;} }); }