Jalan Evolusi Roy

Jalan Evolusi Roy

@mamadousakho. #TheSoldierIsBack. Tweet sederhana Crystal Palace Football Club, Selasa 19 September lalu mungkin lebih untuk menunjukkan rasa syukur atas sukses The Eagles menaklukkan Huddersfield Town di putaran ketiga piala Carabao atau piala liga Inggris.  Mamadou Sakho yang baru dipermanenkan dalam perekrutan dari Liverpool berperan besar dalam menjaga benteng pertahanan anak asuhan Roy Hodgson ini dibabak kedua, setelah tuan rumah unggul lewat gol Bakary Sako di babak pertama.

Kemenangan ini bernilai ganda bagi Crystal Palace.  Balasan kekalahan mereka atas tim promosi Premier League ini yang mempermalukan mereka di Selhurst Park di minggu pertama kompetisi saat The Eagles masih ditangani oleh Frank De Boer.  Awal dari empat kekalahan tanpa mencetak gol di Premier League yang membuat De Boer kehilangan pekerjaaannya, digantikan oleh mantan manajer timnas The Three Lions, Roy Hodgson.  Pelatih pertama Premier League yang direkrut pada saat berusia 70 tahun inipun tidak memberikan hasil yang memadai dilaga perdananya minggu lalu.  Yohan Cabaye dan kawan-kawan kalah dari Southampton dikandang sendiri, tanpa mampu membalas gol tunggal Steven Davis.

Jadilah kemenangan atas Huddersfield pertengahan minggu sebagai kemenangan perdana kakek Roy sekaligus gol perdananya bagi klub favorit masa kecilnya ini.  Memang hitungannya hanya piala liga, kompetisi level tiga di sepakbola Inggris atau istilahnya kaum nyinyir saat Jose Mourinho memenangkan piala yang sama bersama Manchester United musim lalu sebagai turnamen kecamatan, tapi kemenangan perdana setelah masa yang mengkhawatirkan selalu baik bagi kondisi mental pemain.

“Saya senang dengan kerja keras kami minggu ini. Saya senang dengan kemenangan ini, terutama kinerja kami di babak pertama setelah hanya berlatih bersama selama seminggu. “ ujar Hodgson pada BBC seusai laga di Selhurst Park itu.  Memang Frank de Boer juga mencatat kemenangan perdana di piala liga sebelum dipecat, tetapi kemenangan melawan Huddersfield Town, sesama tim Premier League dan pernah menghancurkan mereka tiga gol tanpa balas pasti berbeda rasa dengan kemenangan putaran kedua atas Ipswich Town yang merupakan tim Championship.  Kemenangan yang sekaligus ingin menekankan bahwa lambat tapi pasti biasanya berdasarkan historis, Hodgson sering sukses.

 

Sejarah Fulham

Bukan kali ini Hodgson direkrut sebagai manajer dengan tujuan untuk bertahan di Premier League.  Memasuki musim festival 2007/2008, setelah dianggap sukses mengarungi dunia kepelatihan bersama Internazionale, Grasshopper, Uni Emirat Arab dan Finlandia, pemilik Fulham, Mohamed Al Fayed merekrutnya untuk mengatasi masalah di  klub yang hingga 30 Desember 2007 itu berada diurutan ke 18 Premier League dengan hanya mencatat dua kemenangan sepanjang musim.  Tidak banyak yang dilakukan Hodgson saat menggantikan Lawrie Sanchez kala itu di jendela transfer musim dingin, kecuali memperkuat pertahanan dengan mendatangkan Brede Hangeland.  Kemenangan perdanapun baru diraih Hodgson di Premier League sebulan kemudian atas Aston Villa.  Tiga belas laga perdananya di Premier League hanya menghasilkan 9 poin.  Jurang degradasi yang semakin menganga dijawab oleh Hodgson dengan membawa Fulham merebut 12 poin dalam 5 laga terakhir.  Termasuk kemenangan atas Manchester City setelah tertinggal dua gol dibabak pertama.  Kemudian kemenangan atas Birmingham City, Reading dan dihari terakhir kompetisi ketika Danny Murphy mencetak gol kemenangan atas Portsmouth menandai tranformasi Hodgson untuk membawa Fulham bertahan di Premier League.

Transformasi ini terus berjalan perlahan tapi pasti di musim berikutnya dengan Fulham mengakhiri musim 2008/2009 di urutan ke 7 premier league.  Posisi tertinggi klub London Barat  hingga saat ini yang membawa mereka ke petualangan di Eropa musim berikutnya.  Dimusim inilah nama Hodgson kembali tercatat di Eropa dengan sukses membawa Fulham tidak saja mencapai perempat final piala FA untuk musim kedua berturut-turut, tapi juga meloloskan Fulham ke final pertama Liga Europa, walaupun kemudian kalah 1–2 dari Atletico Madrid lewat perpanjangan waktu.  Kalah, tapi Hodgson terpilih sebagai Manager Of The Year pilihan League Manager Association, dengan rekor perbedaan pemilihan suara ketika itu, berkat suksesnya membawa Brede Hangeland dan kawan-kawan menyingkirkan Shaktar Donetsk, Juventus, Wolfsburg dan Hamburg SV dalam perjalanan ke final.

Yang luar biasa adalah kemenangan di babak 16 besar atas Juventus dimana mereka kalah 1–3 di Turin dan tertinggal 1 gol di Craven Cottage sebelum dua gol Zoltan Gera serta gol gol Bobby Zamora dan Clint Dempsey meloloskan mereka ke perempat final.  Juga kemenangan agregat 2–1 atas Hamburg SV, menggagalkan ambisi klub Jerman ini untuk bermain di final perdana Liga Eropa yang digelar dikandang mereka sendiri, Volkspark Stadion.

Akhir musim 2009/2010, Hdgosn mengundurkan diri dari Craven Cottage untuk menangani Liverpool.  Anfield hanya menjadi tempatnya bertugas selama setengah musim sebelum digantikan oleh Kenny Dalglish.  Intinya, transformasi ala Roy adalah sebuah evolusi yang bergerak perlahan menuju perubahan yang membaik dan pasti.  Tentunya evolusi perlu waktu dan tidak mungkin dilakukan Hodgson apalagi diusianya yang uzur seperti sekarang ini tanpa kesabaran sang pemilik.  Klub besar tidak akan cocok dengan Hogson.  Maka tempat yang paling cocok adalah Crystal Palace dimana diharapkan kesabaran dari Steve Parish untuk membangun tim melewati masa sulit keluar dari zona degradasi.  Tidak mungkin hanya dilihat dari laga sebulan kedepan dimana The Eagles akan tandang ke Old Trafford dan Etihad, dan setelah International break menjamu Chelsea.

Ingat bagaimana Hodgson membawa kemenangan perdana bagi Fulham di Premier League setelah sebulan menangani klub.  Dan bukan tidak mungkin Crystal Palace harus berjuang hingga hari terakhir kompetisi dibulan Mei nanti.  Tapi seperti kata orang bijak pekerjakanlah seseorang yang matang dan bjaksana jika tujuan Anda hanya untuk bertahan hidup, Hodgsonlah yng dibutuhkan klub London Selatan ini untuk bertahan hidup, seperti halnya Hodgson butuh The Eagles untuk pembuktian dirinya   Situasi simbiosis mutualisme inilah yang bias membangkitkan sebuah klub.  Siapa tahu musim terindah bagi Crystal Palace baru akan terjadi dimusim 2018/2019, ketika Hodgson dipercaya untuk membentuk tim sesuai dengan keinginannya.  Seperti ketika dia mendatangkan Mark Scahwarzer, Zoltan Gera, Chris Smalling, Bobby Zamora, Andy Johnson untuk meperkuat kinerja Brede Hangeland yang telah lebh dulu datang ke Craven Cottage yang membuat Fulham jadi disegani tidak saja di Inggris tapi juga di strata kedua sepakbola Eropa ketika itu.  Dan menilik individu yang ada di Selhurst Park saat ini, sangat mungkin jalan evolusi Roy akan menjadi kenyataan. Segera berlangganan TV kabel MNC Play #HomeofTheGreatestFootballLeagues untuk menyaksikan kiprah tim asuhan Roy Hodgson berlaga di Premier League melalui Channel beIN Sports. – GAZ

var trackOutboundLink = function(url) { gtag('event', 'click', { 'event_category': 'outbound', 'event_label': url, 'transport_type': 'beacon', 'event_callback': function () {document.location = url;} }); }