ASA SUPER KANE

ASA SUPER KANE

Bicara sepak bola mau tidak mau pasti kita bicara Inggris, negara yang selalu menganggap mereka adalah penemu olahraga terpopuler sejagad ini. Lalu masuk ke pertanyaan: apa prestasi Inggris di pentas sepak bola? Untuk ukuran klub, ada Liverpool, Manchester United, Chelsea sampai ke Aston Villa, bahkan Nottingham Forest yang pernah memenangkan gelar Piala Champion atau Liga Champions, lambang supremasi tertinggi antar klub Eropa.

Untuk urusan prestasi tim nasional, Inggris selalu harus kilas balik ke tahun 1966, satu-satunya tahun di mana mereka merebut gelar Piala Dunia. Lalu mengerucut ke pertanyaan: siapa pahlawan Piala Dunia Inggris saat itu? Jawabannya tentu saja Geoff Hurst, pahlawan The Three Lions kala itu yang masih menjadi satu satunya pemain yang berhasil menciptakan hattrick di final piala dunia. Nama pemain yang besar bersama West Ham United dan menciptakan 24 gol untuk The Three Lions ini, akan selalu disebut sebagai pahlawan Inggris sampai ada seorang ikon striker lagi yang bisa mempersembahkan Piala Dunia atau Piala Eropa bagi Inggris.

Butuh waktu sampai 20 tahun bagi Inggris untuk setidaknya memiliki asa kembali menjuarai Piala Dunia. Setelah gagal mempertahankan gelar Piala Dunia di Meksiko tahun 1970, bahkan gagal lolos ke PD Jerman Barat 1974 dan Argentina 1978, sebenarnya Inggris memiliki harapan kala diasuh Ron Greenwood pada gelaran Piala Dunia 1982. Tapi Trevor Francis, striker Nottingham Forest yang menjadi manusia 1 juta poundsterling pertama di dunia sepak bola itu gagal bersinar di Spanyol.

Fast Forward ke empat tahun setelahnya, asa publik sepak bola Inggris ditempatkan pada pasukan asuhan Bobby Robson yang mengandalkan strikertajam milik Everton, Gary Lineker. Lineker muda memang menjadi top scorer di PD Meksiko 1986 dengan 6 gol, tapi gol terakhirnya ke gawang Argentina hanya untuk memperkecil ketinggalan dan The Three Lions gugur di perempat final. Empat tahun kemudian, Lineker masih bisa menciptakan 4 gol di Italia 1990, tapi Inggris mandek di semifinal dan hanya berhasil finis di urutan ke empat. Toh Lineker membuktikan dirinya bisa jadi andalan Inggris di lini depan dan sukses bersama klub-klub yang dia bela, 95 gol bersama Leicester City, 30 gol untuk Everton hanya dalam semusim di mana Everton menjadi runner up divisi utama dan juga finalis piala FA. Kemudian 3 musim bersama Barcelona Lineker menciptakan 42 gol. Kembali ke Inggris bersama Tottenham Hotspur, 67 gol dibukukannya selama tiga musim, sebelum mengakhiri karernya bersama Nagoya Grampus Eight di Jepang. 

Untuk tim nasional, 48 gol diciptakan oleh pria yang sekarang menjadi hostsepak bola untuk BT Sport di Liga Champions dan BBC di Match of The Day ini. Prestasi ini membuat Lineker berada diurutan ketiga top scorer The Three Lions di bawah Sir Bobby Charlton dengan 49 gol dan Wayne Rooney dengan 53 gol.

Bicara Rooney, kita juga harus membahas asa Inggris sebelumnya, yakni Alan Shearer. Menonjol bersama Southampton dengan 23 gol dalam 4 musim, namanya disebut-sebut sebagai pengganti Lineker di timnas. Walaupun hanya tampil satu kali di Euro 92 dan Inggris gagal lolos dari fase grup kala itu, Shearer memecahkan rekor transfer Inggris sebesar 3,6 juta poundsterling saat digaet Blacburn Rovers. Terbukti Shearer sukses dengan membukukan 16 gol dalam 21 penampilan di musim pertamanya bersama Rovers yang (sayangnya) banyak dilalui dalam kondisi cedera. Musim 1993 / 94, dengan kondisi fit sepanjang musim, Shearer menciptakan 31 gol dan Rovers ada di urutan kedua Premier League. Musim berikutnya, 34 gol diciptakan Shearer untuk membawa Rovers menjuarai Premier League pertama dan satu-satunya mereka sampai saat ini. Namun, walau gagal mempertahankan gelar musim berikutnya, Shearer tetap tampil luar biasa secara individu dengan torehan 31 gol.

Prestasi yang membuatnya mengantongi gelar pemain termahal dunia awal musim 1996 / 97 ketika Newcastle United merekrutnya, di mana Shearer mengakhiri kariernya setelah 10 musim dengan membukukan 148 gol.  Sukses di klub tapi tidak demikian halnya di timnas.  Pengharapan yang tinggi hanya dijawab Shearer dengan 30 gol dalam 63 penampilan bagi The Three Lions dengan prestasi negatif seperti gagal lolos dari putaran grup Euro 1992 dan 2000 dan gagal lolos ke piala dunia 1994. Euro 1996 di kandang sendiri memang mencatat Shearer sebagai top scorer dengan 5 gol tapi Inggris gagal di semifinal. Satu-satunya piala dunia yang diikuti Shearer adalah Prancis 1998 di mana hanya dua gol dibukukannya ke gawang Tunisia di putaran grup dan Argentina di babak 16 besar di mana The Three Lions tersingkir.

Shearer menutup karier Internasionalnya usai Euro 2000 dengan menggambarkan kesuksesan seorang striker di kompetisi domestik tidak bisa jadi jaminan akan sukses di timnas maupun laga-laga klub Internasional.

Baca Juga : KING IN THE NORTH

HARAPAN BARU INGGRIS

Usai era Shearer, Inggris tidak habis harapan. Datang Wayne Rooney yang menonjol bersama Everton selama dua musim menuju Euro 2004. 15 gol dalam dua musim itu yang membuat namanya jadi andalan The Three Lions selama pagelaran Piala Eropa di Portugal. Setelah sebelumnya di babak kualifikasi golnya ke gawang Moldova membuatnya jadi pemain termuda yang menciptakan gol bagi timnas Inggris, Rooney menunjukkan tajinya dalam empat penampilan di Portugal. Empat gol diciptakannya dengan gol ke gawang Swiss sempat membuatnya jadi pencetak gol termuda dalam sejarah Piala Eropa. Sayang cedera membuatnya harus diganti melawan Portugal dan The Three Lions tersingkir.

Tapi prestasinya di usia muda membuat Sir Alex Ferguson meliriknya untuk Manchester United yang merekrutnya sebesar 25,6 juta poundsterling. 183 gol dalam 13 musim bersama The Red Devils, Rooney menggapai puncak kariernya dengan 5 gelar Premier League, 1 gelar piala FA, 3 gelar piala Liga, 4 gelarCommunity Shield serta masing-masing satu gelar Liga Champions, Liga Eropa dan juara dunia antar klub. Plus 4 kali menjadi top scorer Premier League. Satu hal yang tetap tidak bisa digapai oleh Rooney seperti halnya striker-striker The Three Lions sebelumnya adalah gelar Piala Dunia, Piala Eropa ataupun Piala Interkontinental.

Harapan itulah yang akan dibebankan pada pundak seorang pemain yang sampai saat ini masih diragukan apakah memang berskala Internasional atau hanya sekedar lewat di sepak bola domestik Inggris saja.

RUSIA 2018

Adalah kepada Harry Edward Kane, pria kelahiran 28 Juli 1993 asal Inggris ini menopang beban itu sekarang.  Dianggap sebagai Super Kane dengan kontribusi gol-golnya yang sangat luar biasa dalam 4 musim terakhir. Bergabung bersama Tottenham Hotspur sejak tahun 2009, karier Kane melanglang buana dengan lebih banyak dipinjamkan ke klub-klub medioker di mana Kane belajar hal-hal yang paling dibutuhkan seorang striker. Timing dan kesabaran.

Hal yang dibuktikannya sejak musim 2014 / 15 di mana dia menciptakan 21 gol bagi The Lilly Whites yang mebuat nomor punggungnya berubah dari 18 menjadi 10 di musim berikutnya. Nomor punggung yang membuatnya jadi kunci utama serangan Spurs. 25 gol dibukukannya musim 2015 / 16 yang membuatnya merebut Golden Boot melebihi Sergio Aguero dan Jamie Vardy. Hal yang sama diulanginya musim 2016 / 17 dengan menciptakan 29 gol, melewati Romelu Lukaku, sekaligus membuatnya menjadi pemain kelima dalam sejarah yang menggondol Golden Boots dua musim berturut-turut.

Hal tersebut juga menjadikannya sebagai harapan Tottenham Hotspur dan Inggris musim ini. Untuk level klub dijawab Kane dengan luar biasa musim ini. 23 gol Premier League, 7 gol Liga Champions dan 4 gol Piala FA di mana anak-anak asuhan Mauricio Pochettino ini masih mempunyai asa.

Lalu bagaimana untuk peluang Kane bersama timnas di Rusia nanti. Ini ujian yang harus dijawab oleh Kane. Ingat bagaimana Tottenham Hotspur luar biasa sekali dengan menjuarai grup yang juga dihuni oleh Real Madrid dan bahkan mengalahkan sang juara bertahan di Wembley. Tapi dari sisi negatif adalah Kane tidak menciptakan gol dalam dua laga menghadapi Los Merenques. Memang Super Kane menciptakan gol ke gawang Juventus dalam laga pertama babak 16 besar minggu lalu, tapi regular mencetak gol ke gawang lawan-lawan yang besar itulah yang harus dilakukan oleh Kane jika ingin menghilangkan keraguan orang apakah dia pemain skala Internasional atau tidak.

Mungkin sepeti Lineker yang menjawab sukses bersama timnas walaupun tidak menjuarai kompetisi domestik Inggris adalah hal yang harus dilakukan oleh Kane. Ingat bagaimana Kane hanya dipasang Roy Hodgson sebagai pengambil tendangan pojok ketika Inggris gagal di Euro 2016 lalu. Di Rusia ini Kane harus melakukan lebih dari sekedar pengambil bola-bola mati. Ingat juga bahwa jika Kane selalu gagal mencetak gol di bulan Agustus, harapan rakyat Inggris ini juga belum pernah mecetak gol di bulan Juni dan Juli bersama The Three Lions, bulan di mana piala dunia nanti berlangsung. Gelontoran gol yang tidak sekedar menambah jumlah pundi-pundi 12 golnya bersama timnas sangat dibebankan pada Super Kane.

Nah, sebelum menyaksikan aksi Kane di Piala Dunia, Premier League menjadi ajang pembuktian bahwa dirinya layak menjadi legenda selanjutnya The Three Lions, Saksikan terus pertandingan-pertandingan Tottenham Hotspur di Liga Inggris dengan berlangganan TV Kabel MNC Play #HomeOfTheGreatestFootballLeague.

G A Z